Siapa yang Diuntungkan? Saat Kasus 30 Kg Sabu Mengarah ke Hal yang Lebih Dalam
TINDAKTEGAS | PEKANBARU,(19/04/26) – Ketika pelaku sudah ditangkap, barang bukti sudah diamankan, dan jaringan mulai terurai, biasanya sebuah kasus dianggap selesai. Tapi pada kasus 30 kilogram sabu yang diduga dikendalikan dari dalam Lapas Narkotika Rumbai, justru di titik itulah pertanyaan paling penting baru dimulai.
Siapa yang diuntungkan?
Pertanyaan ini tidak muncul tanpa alasan. Karena dalam jaringan sebesar ini, mustahil semua berhenti hanya pada orang-orang yang terlihat di permukaan. Selalu ada lapisan lain—yang tidak muncul di depan, tapi justru berada di posisi paling aman.
Fakta yang sudah terbuka menunjukkan satu hal yang tidak bisa dianggap biasa. Perintah bisa keluar dari dalam lapas. Komunikasi tetap berjalan. Distribusi berlangsung dalam skala besar. Ini bukan kejadian sesaat. Ini sebuah sistem yang bekerja.
Dan setiap sistem yang bekerja, selalu punya penopang.
Di titik ini, persoalan tidak lagi sekadar siapa yang tertangkap, tapi bagaimana semua ini bisa berjalan tanpa terhenti. Karena jaringan seperti ini tidak hanya butuh pelaku, tapi juga butuh kondisi yang memungkinkan mereka bergerak dengan stabil.
Jika komunikasi ilegal bisa terjadi berulang, jika aktivitas tidak terdeteksi dalam waktu lama, dan jika skala peredaran mencapai puluhan kilogram, maka pertanyaannya menjadi lebih tajam:
apakah ini hanya kelalaian… atau ada yang diuntungkan dari keadaan ini?
Pertanyaan ini memang tidak nyaman. Tapi justru di situlah letak pentingnya.
Dalam banyak kasus narkotika, pelaku lapangan adalah yang pertama terlihat dan paling mudah dijangkau. Namun mereka jarang menjadi pihak yang menikmati keuntungan terbesar. Uang selalu bergerak ke arah yang lebih sunyi ke tempat yang tidak mudah disentuh.
Dan di sinilah kasus ini mulai menunjukkan sisi lain.
Jika aliran uang tidak ditelusuri, maka yang terungkap hanya sebagian. Jika hanya berhenti pada pelaku, maka jaringan berpotensi tetap hidup dengan wajah baru. Dan jika celah yang sama tetap ada, maka peristiwa serupa hanya tinggal menunggu waktu.
Artinya, masalahnya bukan lagi sekadar kejahatan, tapi ruang yang membuat kejahatan itu bisa terus terjadi.
Ruang itu bisa berupa kelalaian. Tapi juga bisa berupa sesuatu yang lebih dari itu.
Karena dalam praktiknya, jaringan sebesar ini tidak hanya membutuhkan keberanian pelaku, tetapi juga kepastian bahwa sistem di sekitarnya tidak akan mengganggu.
Dan ketika kepastian itu ada, satu pertanyaan tidak bisa dihindari:
siapa yang memastikan semuanya tetap berjalan?
Di sinilah publik mulai melihat bahwa kasus ini tidak sesederhana yang terlihat. Ada kemungkinan bahwa yang tampak hanyalah bagian depan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Penegakan hukum kini berada di titik penting. Bukan hanya untuk membuktikan siapa yang bersalah, tetapi untuk menjawab apakah sistem ini benar-benar bersih dari kepentingan.
Karena jika tidak, maka penangkapan demi penangkapan hanya akan menjadi rutinitas tanpa pernah benar-benar menyentuh inti persoalan.
Dan pada akhirnya, satu kalimat menjadi semakin relevan untuk dibaca perlahan:
jika tidak ada yang diuntungkan, mengapa semua ini bisa berlangsung begitu lama? (*)
Rilis: Bob | Red




